Akhirnya kutemukan juga kos-kosan yang cocok. Di Jogja, kota seribu sekolah ini, sungguh sulit mencari kos-kosan yang memenuhi kriteria. Murah, nyaman, dan dekat dengan kampus adalah kriteria utamaku. Dan inilah kos-kosan Moro Marem yang dikelola oleh Kang Juned. Seorang duda yang ditinggal mati istrinya.
Moro Marem terletak tidak jauh dari kampusku. Jaraknya sekitar 500 meter. Jalan kaki sepuluh menit atau naik sepeda lima menit pastilah sampai. Selain dekat dengan kampus, Moro Marem juga dekat dengan pusat perbelanjaan, warnet dan toko buku. Hal ini tentu sangat memudahkanku untuk belajar di kota ini.
Hari pertama di Moro Marem sungguh melelahkan. Menata barang bawaan, memasang kasur, membersihkan kamar dan seabrek kegiatan yang lain sangat menguras tenaga. Namun, kelelahan itu seakan sirna setelah aku berkenalan dengan Fuad, teman sekamarku. Mahasiswa Sospol asal Jakarta itu memang full humor. Bayangkan saja, saat pertama kalinya berkenalan sudah mengajak main tebak-tebakan.
“Hei kawan, Siti Nurhaliza telanjang di tengah jalan kelihatan apanya?”
“Ya, kelihatan itunya,” jawabku asal-asalan.
“Hu...ngeres aja pikirannya. Ya kelihatan bohongnya, bego lu.”
Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Sedangkan Fuad tertawa ngakak melihat kekalahanku. Begitulah selanjutnya, Fuad selalu berkelakar. Hal ini membuatku betah tinggal satu kamar dengannya.
Haripun merambat malam. Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku masih setia membaca buku Grotta Azzura karya Sutan Takdir Alisyahbana. Mataku benar-benar sulit kupejamkan. Perut yang malam ini belum kuisi sedikitpun, membuatku tetap terjaga. Di Moro Marem masalah makanan memang di luar tanggungjawab Kang Juned. Anak-anakpun harus mencari makan di luar. Oleh karena itu, malam ini aku sengaja menunggu penjual makanan yang lewat. Tak lama kemudian...
Dhok-dhok-dhok
Ada suara kentongan dipukul. Ah, pasti penjual bakmi keliling yang tadi sore diceritakan Kang Juned. Aku segera keluar kamar. Kupanggil penjual bakmi itu.
“Pak…bakmi, Pak,” panggilku.
“Iya dik,” jawabnya ramah. Lelaki berjenggot itu mengarahkan gerobaknya menuju Moro Marem. Ia pun menyalakan api.
“Bakmi goreng atau rebus?” tanyanya.
“Bakmi goreng” aku menjawab sambil berdiri di sampingnya. Tangan terampilnya mulai memasukkan bumbu-bumbu ke dalam wajan. Disusul telur, kemudian irisan daging ayam. Lalu dimasukkannya bakmi-bakmi itu.
“Adik anak baru ya di sini? Asalnya dari mana?” tanyanya sembari membolak-balikkan bakmi yang ada di wajan.
“Ya, saya anak baru di sini, asli dari Ponorogo”
“Ponorogo? jauh juga. Oh iya, nama adik siapa?”
“Bram, Bapak?”
“Prastomo, biasa dipanggil Pak Pras” jawabnya seraya memberikan sepiring bakmi goreng. Aromanya semakin membuat lapar perut.
“Berapa, Pak?”
“Lima ribu, Dik.”
Pak Pras pun pergi setelah mengucapkn terima kasih dan tersenyum lebar.
Gila! Enak nian bakmi goreng ini. Takjubku dalam hati belum juga hilang. Bakmi goreng buatan Pak Pras memang lain. Bumbunya pas sekali, apalagi irisan ayam dan telurnya, sungguh menggugah selera. Tak pernah kutemui bakmi goreng seenak ini di kotaku.
Akupun memutuskan untuk menjadi langganan tetap pak Pras. Bakmi goreng yang luar biasa lezat itu telah mencuri hatiku. Namun sayang, Pak Pras baru lewat Moro Marem sekitar jam sepuluhan, otomatis aku harus menahan lapar beberapa saat. Bukan masalah memang. Malam ini aku sengaja duduk di teras sambil menunggu Pak Pras lewat. Dan…
Dhok-dhok-dhok
Nah, itu dia, sorakku dalam hati. Suara kentongan pertanda pak Pras lewat terdengar juga. Aku lalu menghampirinya.
“Bakmi, Pak” pintaku.
“Oh…dik Bram tho, iya iya,” ia pun mulai membuat bakmi.
Aku menunggu di sampingnya. Sewaktu Pak Pras asyik menggoreng bakmi, ia mengajukan pertanyaan yang membuatku bingung.
“Dik Bram tahu tidak, rahasia lampu petromak yang tergantung di ujung gerobak itu?”
“Tidak tahu, memang artinya apa Pak?”
“Petromak ini layaknya manusia. Ketika gasnya penuh, api menyala terang. Sedang saat gasnya sudah habis, apinya akan redup dan redup”.
“Lalu apa hubungannya dengan manusia?”
“Begitu juga manusia, saat Tuhan memberi nikmat yang berlimpah, ia jauh dari-Nya. Merasa sombong, merasa besar. Dan bila nikmat itu telah dicabut, ia segera mendekat pada Tuhan seraya memohon-mohon”.
“O…begitu ya,” kagumku.
Pak Pras berlalu setelah menyerahkan sepiring bakmi goreng, juga setelah aku membayarnya. Kekagumanku terhadap Pak Pras semakin bertambah, tidak hanya kepada kelezatan bakmi gorengnya saja, tapi juga kata-katanya yang bijaksana dan penuh makna.
Sejak saat itu pak Pras selalu memberi nasihat-nasihat setiap aku membeli bakmi gorengnya. Seperti malam itu.
“Kalau Dik Bram lihat roda gerobakku itu, pelajaran apa yang bisa diambil?” tanya Pak Pras.
“Memangnya ada Pak?” aku tak paham.
“Oh ada, roda itu bagaikan nasib manusia, kadang di atas kadang di bawah. Kalau kau mau bergerak cepat pasti kau akan segera di atas. Namun, kalau kau bergerak lamban, selamanya kau akan di bawah,” jelasnya.
Malam berikutnya Pak Pras memberiku nasihat lagi. Saat aku mencoba mencicipi bakmi rebusnya.
“Dik Bram, coba kau perhatikan air yang mendidih di wajan itu,” kata pak Pras sembari memasukkan bakmi perlahan-lahan.
“Rakyat kecil yang tertindas juga begitu. Bila mereka dibuat panas mereka juga akan mendidih, juga akan meletup. Itu pasti,” tukasnya mantap.
Aku hanya mengangguk-angguk saja. Toh aku juga tidak terlalu paham dengan perkataannya yang satu ini. Tapi aku yakin semua nasihatnya pasti bermanfaat. Pak Pras, Pak Pras pintar-pintar kok jadi penjual bakmi, ujarku dalam hati.
***
Siang ini matahari sangat tak bersahabat. Panasnya serasa membakar kepala. Membuat keringat sebesar biji jagung bercucuran. Hal ini membuatku tak betah berlama-lama di luar rumah.
Aku segera masuk kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Kemudian Fuad yang baru pulang dari kampus masuk kamar pula. Wajahnya nampak bersemangat.
“Bram, besok lu mau ngikut demo kagak?” tanyanya sambil mengganti baju.
“Demo apa?” aku balik bertanya.
“Demo buat nurunin Pak Walikota yang ketahuan nilep dana pembangunan jembatan, nggak tanggung-tanggung 10 milyar cui. Ikutan kagak?”
“Nggak ah, besok aku banyak acara,” tukasku.
“Hu…dasar sok sibuk lu” Fuad kelihatan kecewa.
Zaman sekarang demonstrasi memang semakin menjamur saja, masalahnya pun beragam. Mulai dari penurunan pejabat korup, masalah sengketa tanah, sampai menuntut kenaikan gaji. Tetapi aku tak begitu peduli dengan itu semua. Biarlah mereka saja yang bergerak.
Pagi ini Fuad sudah kelihatan gagah. Celana levis belel dipadu dengan kemeja kotak-kotak khas demonstran nampak serasi dengan tubuhnya yang kerempeng. Di kepalanya terikat kain putih bertuliskan LAWAN KORUPSI! Sangar.
“Eh Bram, nanti kalau gue ditembak polisi waktu demo, kuburin gue dekat warungnya Bu Endang ya,” pintanya sebelum berangkat.
“Warungnya Bu Endang? Memangnya kenapa?” aku bingung.
“Biar gue bisa liat si Rina tiap hari, itu lho anaknya Bu Endang yang asoi geboi,” Fuad tertawa terbahak-bahak sambil keluar kamar.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Sifatnya yang satu ini belum juga hilang. Satu hal yang membuatku bingung. Orang macam Fuad begini, apa yang mau dilakukannya waktu demo nanti. Mau melawak kali.
Huh, mau melawak kek, mau teriak-teriak kek, yang penting demo kali ini berhasil. Bisa menurunkan Pak Walikota yang tak tau diuntung itu. Masak sudah digaji besar ole negara, masih bisa-bisanya makan uang rakyat. Rakus nian!
Malam menjelang. Akupun melakukan hal-hal yang sama seperti sebelumnya. Menunggu Pak Pras. Menanti suara kentongan yang khas itu.
Sambil menunggu aku sempatkan membaca roman klasik karangan Abdul Muis berjudul Salah Asuhan. Daripada melamun tak jelas.
Sudah satu jam aku menunggu. Tapi Pak Pras belum juga muncul. Aku mulai gelisah. Perutku juga semakin keroncongan. Jangan-jangan hal buruk terjadi padanya. Ah, tidak mungkin.
Tiba-tiba Fuad datang dengan terhuyung-huyung, jalannya terpincang-pincang, keningnya berdarah. Aku jadi bingung.
“Ada apa, Ad?” tanyaku.
“Wah, demonya kacau!” Fuad penuh emosi.
“Kacau bagaimana?”
“Demonstrannya ngamuk, kantor Walikota diporak-porandakan, aparatnya tak mau kalah pula. Pokoknya ngeri!”
Aku kaget setengah mati. Demo yang kelihatannya aman-aman saja itu, ternyata bisa kacau juga. Pfuh… kapan Indonesia mau maju kalau orangnya hanya bisa berantem dan berantem,” keluhku dalam hati.
Setelah berganti pakaian Fuad menanyaiku.
“Oh ya Bram, Pak Pras tidak jualan kan?”
“He eh, dari tadi kutunggu tidak datang-datang”.
“Pak Pras ditangkap polisi, Bram!”
Petir seakan menyambar. Aku tersentak.
“Apa?! Ditangkap polisi?”
“Iya, Pak Pras dituduh sebagai provokator kerusuhan. Orasi yang beliau berikan disinyalir kuat penyebab kebrutalan massa.” jelas Fuad.
Mulutku ternganga. Pak Pras? Provokator?!
Topeng Bakmi
Kamis, 04 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar