
Sejujurnya, kesan pertama yang saya tangkap ketika selesai membaca sekuel keempat Laskar Pelangi adalah novel ini tak lebih baik dari tiga novel pendahulunya. Sebab, dari judulnya saja tidak ditemui korelasi yang jelas dengan kandungan novel. Sepertinya hanya ingin membuat pembaca setia Tetralogi Laskar Pelangi penasaran dan bertanya-tanya siapa Maryamah Karpov itu. Pun demikian, secara garis besar, novel ini terasa tuntas, Ikal telah menemukan sesuatu yang mampu mengisi lubang di hatinya: A Ling. Meskipun masih dengan kepawaiannya, Andrea Hirata membebaskan pembaca untuk menebak apa yang akan terjadi setelah Ikal membawa lari dengan A Ling.
Kemudian, muncul semacam keraguan dalam benak saya. Benarkah cerita sepulangnya Ikal dari Prancis itu benar-benar kisah nyata? Pasalnya saya menemui beberapa kejanggalan yang mengganggu dalam novel itu. Misalanya, ketika Ikal mengumpulkan uang untuk membuat perahu. Sebagai seorang master dari Sorbone, sungguh naas jika kemudian dia harus bekerja kasar demi mengumpulkan uang. Seolah-olah Andrea hanya ingin mengesankan betapa gigihnya Ikal dalam mengejar A Ling. Tidak hanya itu, Ikal memberi nama perahunya Mimpi-Mimpi Lintang untuk menghormati sahabatnya rasanya sesuatu yang tak masuk di akal. Mana mungkin seorang Ikal yang notabene seorang berpendidikan tinggi mengabaikan nilai historis sebuah perahu yang telah karam ratusan tahun. Malah, saya setengah tidak percaya tentang ‘misi’ mengangkat dan make over perahu. Ini seperti cerita dongeng!
Andrea tentunya tak lupa menyisipkan unsur-unsur humor dalam ceritanya. Menariknya, kelakar-kelakar itu bersumber dari kearifan lokal masyrakat Belitong. Coba simak nama-nama unik berikut: Mahmuddin Berita Buruk, mendapatkan nama belakang seperti itu lantaran pekerjaannya sebagai tukang menyiarkan berita kematian lewat toa. Atau Marhaban Hormat Grak karena kebiasaannya menjadi komandan pasukan baris-berbaris di acara tujuh belasan, serta lebih banyak lagi nama-nama kocak lainnya. Juga taruhan-taruhan untuk keberhasilan Ikal yang terdengar ekstrim tapi menggelitik. Tentang sakit gigi (yang sebenarnya sepele) menjadi begitu jenaka pula di tangan Andrea. Mahar dan Tuk bayan Tula tak ketinggalan membuat kita menyunggingkan senyum di bibir.
Lepas dari itu semua, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari novel setebal 204 halaman ini. Tentang kegigihan dalam mengejar mimpi, hubungan anak-orang tua, interaksi sosial, kepercayaan keapada dunia mistik dan tentang persahabatan. Saya ingin menggaris bawahi pelajaran terakhir, tentang persahabatan. Betapa dalam cerita itu, persahabatan Laskar Pelangi telah lulus diuji waktu. Sebuah cinta yang dibangun ketulusan hati, bukan materi. Suatu hal yang semakin langka di jaman seperti ini. Oleh karena itu, bagi yang mengaku penggemar berat Andrea Hirata dan kolektor karya sastra sayang sekali jika melewatkan novel yang satu itu. Karya pamungkas Andrea Hirata yang sarat nilai-nilai kehidupan. Selamat membaca dan meniti hikmah.
Maryamah Karpov: Realita atau Dongeng?
Kamis, 04 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar