Maryamah Karpov: Realita atau Dongeng?

Kamis, 04 Februari 2010



Sejujurnya, kesan pertama yang saya tangkap ketika selesai membaca sekuel keempat Laskar Pelangi adalah novel ini tak lebih baik dari tiga novel pendahulunya. Sebab, dari judulnya saja tidak ditemui korelasi yang jelas dengan kandungan novel. Sepertinya hanya ingin membuat pembaca setia Tetralogi Laskar Pelangi penasaran dan bertanya-tanya siapa Maryamah Karpov itu. Pun demikian, secara garis besar, novel ini terasa tuntas, Ikal telah menemukan sesuatu yang mampu mengisi lubang di hatinya: A Ling. Meskipun masih dengan kepawaiannya, Andrea Hirata membebaskan pembaca untuk menebak apa yang akan terjadi setelah Ikal membawa lari dengan A Ling.

Kemudian, muncul semacam keraguan dalam benak saya. Benarkah cerita sepulangnya Ikal dari Prancis itu benar-benar kisah nyata? Pasalnya saya menemui beberapa kejanggalan yang mengganggu dalam novel itu. Misalanya, ketika Ikal mengumpulkan uang untuk membuat perahu. Sebagai seorang master dari Sorbone, sungguh naas jika kemudian dia harus bekerja kasar demi mengumpulkan uang. Seolah-olah Andrea hanya ingin mengesankan betapa gigihnya Ikal dalam mengejar A Ling. Tidak hanya itu, Ikal memberi nama perahunya Mimpi-Mimpi Lintang untuk menghormati sahabatnya rasanya sesuatu yang tak masuk di akal. Mana mungkin seorang Ikal yang notabene seorang berpendidikan tinggi mengabaikan nilai historis sebuah perahu yang telah karam ratusan tahun. Malah, saya setengah tidak percaya tentang ‘misi’ mengangkat dan make over perahu. Ini seperti cerita dongeng!

Andrea tentunya tak lupa menyisipkan unsur-unsur humor dalam ceritanya. Menariknya, kelakar-kelakar itu bersumber dari kearifan lokal masyrakat Belitong. Coba simak nama-nama unik berikut: Mahmuddin Berita Buruk, mendapatkan nama belakang seperti itu lantaran pekerjaannya sebagai tukang menyiarkan berita kematian lewat toa. Atau Marhaban Hormat Grak karena kebiasaannya menjadi komandan pasukan baris-berbaris di acara tujuh belasan, serta lebih banyak lagi nama-nama kocak lainnya. Juga taruhan-taruhan untuk keberhasilan Ikal yang terdengar ekstrim tapi menggelitik. Tentang sakit gigi (yang sebenarnya sepele) menjadi begitu jenaka pula di tangan Andrea. Mahar dan Tuk bayan Tula tak ketinggalan membuat kita menyunggingkan senyum di bibir.
Lepas dari itu semua, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari novel setebal 204 halaman ini. Tentang kegigihan dalam mengejar mimpi, hubungan anak-orang tua, interaksi sosial, kepercayaan keapada dunia mistik dan tentang persahabatan. Saya ingin menggaris bawahi pelajaran terakhir, tentang persahabatan. Betapa dalam cerita itu, persahabatan Laskar Pelangi telah lulus diuji waktu. Sebuah cinta yang dibangun ketulusan hati, bukan materi. Suatu hal yang semakin langka di jaman seperti ini. Oleh karena itu, bagi yang mengaku penggemar berat Andrea Hirata dan kolektor karya sastra sayang sekali jika melewatkan novel yang satu itu. Karya pamungkas Andrea Hirata yang sarat nilai-nilai kehidupan. Selamat membaca dan meniti hikmah.

MENGHUJAM AKAR

Ibrahim-ku Abraham-mu
Yusuf-ku Joseph-mu
Ya’qub-ku Jacob-mu
Musa-ku Moses-mu
Daud-ku David-mu
Ishaq-ku Isaac-mu
‘allaihummassalam…

Oleh al-Quran Sinagog dijaga
Masjid dihormati Taurat juga

Taurat bicara soal kedamaian
Keadilan maktub di al-Quran

Siapa pula membiarkan
Darah terus berkucuran?

Simpan itu senjata pemusnah masa
Henti bunuhi manusia tiada berdosa

Sambit nestapa
Sambut merdeka

Luruh penindasan
Rengkuh kebebasan

Topeng Bakmi

Akhirnya kutemukan juga kos-kosan yang cocok. Di Jogja, kota seribu sekolah ini, sungguh sulit mencari kos-kosan yang memenuhi kriteria. Murah, nyaman, dan dekat dengan kampus adalah kriteria utamaku. Dan inilah kos-kosan Moro Marem yang dikelola oleh Kang Juned. Seorang duda yang ditinggal mati istrinya.

Moro Marem terletak tidak jauh dari kampusku. Jaraknya sekitar 500 meter. Jalan kaki sepuluh menit atau naik sepeda lima menit pastilah sampai. Selain dekat dengan kampus, Moro Marem juga dekat dengan pusat perbelanjaan, warnet dan toko buku. Hal ini tentu sangat memudahkanku untuk belajar di kota ini.

Hari pertama di Moro Marem sungguh melelahkan. Menata barang bawaan, memasang kasur, membersihkan kamar dan seabrek kegiatan yang lain sangat menguras tenaga. Namun, kelelahan itu seakan sirna setelah aku berkenalan dengan Fuad, teman sekamarku. Mahasiswa Sospol asal Jakarta itu memang full humor. Bayangkan saja, saat pertama kalinya berkenalan sudah mengajak main tebak-tebakan.

“Hei kawan, Siti Nurhaliza telanjang di tengah jalan kelihatan apanya?”

“Ya, kelihatan itunya,” jawabku asal-asalan.

“Hu...ngeres aja pikirannya. Ya kelihatan bohongnya, bego lu.”


Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Sedangkan Fuad tertawa ngakak melihat kekalahanku. Begitulah selanjutnya, Fuad selalu berkelakar. Hal ini membuatku betah tinggal satu kamar dengannya.

Haripun merambat malam. Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku masih setia membaca buku Grotta Azzura karya Sutan Takdir Alisyahbana. Mataku benar-benar sulit kupejamkan. Perut yang malam ini belum kuisi sedikitpun, membuatku tetap terjaga. Di Moro Marem masalah makanan memang di luar tanggungjawab Kang Juned. Anak-anakpun harus mencari makan di luar. Oleh karena itu, malam ini aku sengaja menunggu penjual makanan yang lewat. Tak lama kemudian...

Dhok-dhok-dhok

Ada suara kentongan dipukul. Ah, pasti penjual bakmi keliling yang tadi sore diceritakan Kang Juned. Aku segera keluar kamar. Kupanggil penjual bakmi itu.

“Pak…bakmi, Pak,” panggilku.

“Iya dik,” jawabnya ramah. Lelaki berjenggot itu mengarahkan gerobaknya menuju Moro Marem. Ia pun menyalakan api.

“Bakmi goreng atau rebus?” tanyanya.

“Bakmi goreng” aku menjawab sambil berdiri di sampingnya. Tangan terampilnya mulai memasukkan bumbu-bumbu ke dalam wajan. Disusul telur, kemudian irisan daging ayam. Lalu dimasukkannya bakmi-bakmi itu.

“Adik anak baru ya di sini? Asalnya dari mana?” tanyanya sembari membolak-balikkan bakmi yang ada di wajan.

“Ya, saya anak baru di sini, asli dari Ponorogo”

“Ponorogo? jauh juga. Oh iya, nama adik siapa?”

“Bram, Bapak?”

“Prastomo, biasa dipanggil Pak Pras” jawabnya seraya memberikan sepiring bakmi goreng. Aromanya semakin membuat lapar perut.

“Berapa, Pak?”

“Lima ribu, Dik.”

Pak Pras pun pergi setelah mengucapkn terima kasih dan tersenyum lebar.

Gila! Enak nian bakmi goreng ini. Takjubku dalam hati belum juga hilang. Bakmi goreng buatan Pak Pras memang lain. Bumbunya pas sekali, apalagi irisan ayam dan telurnya, sungguh menggugah selera. Tak pernah kutemui bakmi goreng seenak ini di kotaku.

Akupun memutuskan untuk menjadi langganan tetap pak Pras. Bakmi goreng yang luar biasa lezat itu telah mencuri hatiku. Namun sayang, Pak Pras baru lewat Moro Marem sekitar jam sepuluhan, otomatis aku harus menahan lapar beberapa saat. Bukan masalah memang. Malam ini aku sengaja duduk di teras sambil menunggu Pak Pras lewat. Dan…

Dhok-dhok-dhok

Nah, itu dia, sorakku dalam hati. Suara kentongan pertanda pak Pras lewat terdengar juga. Aku lalu menghampirinya.

“Bakmi, Pak” pintaku.

“Oh…dik Bram tho, iya iya,” ia pun mulai membuat bakmi.

Aku menunggu di sampingnya. Sewaktu Pak Pras asyik menggoreng bakmi, ia mengajukan pertanyaan yang membuatku bingung.

“Dik Bram tahu tidak, rahasia lampu petromak yang tergantung di ujung gerobak itu?”

“Tidak tahu, memang artinya apa Pak?”

“Petromak ini layaknya manusia. Ketika gasnya penuh, api menyala terang. Sedang saat gasnya sudah habis, apinya akan redup dan redup”.

“Lalu apa hubungannya dengan manusia?”

“Begitu juga manusia, saat Tuhan memberi nikmat yang berlimpah, ia jauh dari-Nya. Merasa sombong, merasa besar. Dan bila nikmat itu telah dicabut, ia segera mendekat pada Tuhan seraya memohon-mohon”.

“O…begitu ya,” kagumku.

Pak Pras berlalu setelah menyerahkan sepiring bakmi goreng, juga setelah aku membayarnya. Kekagumanku terhadap Pak Pras semakin bertambah, tidak hanya kepada kelezatan bakmi gorengnya saja, tapi juga kata-katanya yang bijaksana dan penuh makna.

Sejak saat itu pak Pras selalu memberi nasihat-nasihat setiap aku membeli bakmi gorengnya. Seperti malam itu.

“Kalau Dik Bram lihat roda gerobakku itu, pelajaran apa yang bisa diambil?” tanya Pak Pras.

“Memangnya ada Pak?” aku tak paham.

“Oh ada, roda itu bagaikan nasib manusia, kadang di atas kadang di bawah. Kalau kau mau bergerak cepat pasti kau akan segera di atas. Namun, kalau kau bergerak lamban, selamanya kau akan di bawah,” jelasnya.

Malam berikutnya Pak Pras memberiku nasihat lagi. Saat aku mencoba mencicipi bakmi rebusnya.

“Dik Bram, coba kau perhatikan air yang mendidih di wajan itu,” kata pak Pras sembari memasukkan bakmi perlahan-lahan.

“Rakyat kecil yang tertindas juga begitu. Bila mereka dibuat panas mereka juga akan mendidih, juga akan meletup. Itu pasti,” tukasnya mantap.

Aku hanya mengangguk-angguk saja. Toh aku juga tidak terlalu paham dengan perkataannya yang satu ini. Tapi aku yakin semua nasihatnya pasti bermanfaat. Pak Pras, Pak Pras pintar-pintar kok jadi penjual bakmi, ujarku dalam hati.

***

Siang ini matahari sangat tak bersahabat. Panasnya serasa membakar kepala. Membuat keringat sebesar biji jagung bercucuran. Hal ini membuatku tak betah berlama-lama di luar rumah.

Aku segera masuk kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Kemudian Fuad yang baru pulang dari kampus masuk kamar pula. Wajahnya nampak bersemangat.

“Bram, besok lu mau ngikut demo kagak?” tanyanya sambil mengganti baju.

“Demo apa?” aku balik bertanya.

“Demo buat nurunin Pak Walikota yang ketahuan nilep dana pembangunan jembatan, nggak tanggung-tanggung 10 milyar cui. Ikutan kagak?”

“Nggak ah, besok aku banyak acara,” tukasku.

“Hu…dasar sok sibuk lu” Fuad kelihatan kecewa.

Zaman sekarang demonstrasi memang semakin menjamur saja, masalahnya pun beragam. Mulai dari penurunan pejabat korup, masalah sengketa tanah, sampai menuntut kenaikan gaji. Tetapi aku tak begitu peduli dengan itu semua. Biarlah mereka saja yang bergerak.

Pagi ini Fuad sudah kelihatan gagah. Celana levis belel dipadu dengan kemeja kotak-kotak khas demonstran nampak serasi dengan tubuhnya yang kerempeng. Di kepalanya terikat kain putih bertuliskan LAWAN KORUPSI! Sangar.

“Eh Bram, nanti kalau gue ditembak polisi waktu demo, kuburin gue dekat warungnya Bu Endang ya,” pintanya sebelum berangkat.

“Warungnya Bu Endang? Memangnya kenapa?” aku bingung.

“Biar gue bisa liat si Rina tiap hari, itu lho anaknya Bu Endang yang asoi geboi,” Fuad tertawa terbahak-bahak sambil keluar kamar.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Sifatnya yang satu ini belum juga hilang. Satu hal yang membuatku bingung. Orang macam Fuad begini, apa yang mau dilakukannya waktu demo nanti. Mau melawak kali.

Huh, mau melawak kek, mau teriak-teriak kek, yang penting demo kali ini berhasil. Bisa menurunkan Pak Walikota yang tak tau diuntung itu. Masak sudah digaji besar ole negara, masih bisa-bisanya makan uang rakyat. Rakus nian!

Malam menjelang. Akupun melakukan hal-hal yang sama seperti sebelumnya. Menunggu Pak Pras. Menanti suara kentongan yang khas itu.

Sambil menunggu aku sempatkan membaca roman klasik karangan Abdul Muis berjudul Salah Asuhan. Daripada melamun tak jelas.

Sudah satu jam aku menunggu. Tapi Pak Pras belum juga muncul. Aku mulai gelisah. Perutku juga semakin keroncongan. Jangan-jangan hal buruk terjadi padanya. Ah, tidak mungkin.

Tiba-tiba Fuad datang dengan terhuyung-huyung, jalannya terpincang-pincang, keningnya berdarah. Aku jadi bingung.

“Ada apa, Ad?” tanyaku.

“Wah, demonya kacau!” Fuad penuh emosi.

“Kacau bagaimana?”

“Demonstrannya ngamuk, kantor Walikota diporak-porandakan, aparatnya tak mau kalah pula. Pokoknya ngeri!”

Aku kaget setengah mati. Demo yang kelihatannya aman-aman saja itu, ternyata bisa kacau juga. Pfuh… kapan Indonesia mau maju kalau orangnya hanya bisa berantem dan berantem,” keluhku dalam hati.

Setelah berganti pakaian Fuad menanyaiku.

“Oh ya Bram, Pak Pras tidak jualan kan?”

“He eh, dari tadi kutunggu tidak datang-datang”.

“Pak Pras ditangkap polisi, Bram!”

Petir seakan menyambar. Aku tersentak.

“Apa?! Ditangkap polisi?”

“Iya, Pak Pras dituduh sebagai provokator kerusuhan. Orasi yang beliau berikan disinyalir kuat penyebab kebrutalan massa.” jelas Fuad.

Mulutku ternganga. Pak Pras? Provokator?!

Program Boarding School

Program Boarding School adalah jawaban atas kegelisahan masyarakat akan rendahnya daya saing lulusan madrasah aliyah dalam perebutan kursi di PTN umum ternama baik melalui jalur beasiswa maupun jalur tes. Program ini menekankan pendalaman materi-materi dasar keilmuan (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, bahasa Inggris dan Komputer), yang dalam prosesnya dipersiapkan khusus untuk menjuarai even-even olimpiade. Ruh keagamaan tetap dipertahankan dalam amaliah-amaliah dan sunnah asrama. Keseimbangan dalam kompetensi keagamaan dan keilmuan menjadi dasar pemikiran (paradigma) program ini, sehingga ke depannya peserta didik diharapkan memiliki kapabilitas yang memadai dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah bersinergi dengan wahyu-wahyu illahiah. Sehingga siap berperan sebagai intelektual muslim dalam kancah dakwah melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Labirin yang menyelimuti antara madrasah aliyah dengan prestasi akademik tinggi itu mulai terbuka dengan munculnya Program Boarding School. Adalah Jahja Umar, Ph.D (Dirjen Mapendais Depag Pusat, sebelumnya kolega Prof Noeng Muhadjir di Diknas Pusat) yang membuka portal tersebut melalui SK Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam RI Nomor : DJ.II/561.B/2005 tentang peningkatan mutu lulusan Madrasah Aliyah, sekaligus sebagai momentum berdirinya sembilan Program Boarding School di seluruh Indonesia antara lain di : Sumsel 1 buah, Sumut 1 buah, Kaltim 1 buah, Jabar 1 buah, Jateng 2 buah, Jatim 2 buah, Sulsel 1 buah, yang salah satunya adalah MAN 1 Surakarta. Bersamaan dengan itu ditandatangani MoU dengan PTN-PTN ternama (UI, IPB, ITB, UGM, ITS dan seluruh UIN di Indonesia) untuk mengakomodasi lulusan madrasah aliyah yang betul-betul qualified dan terseleksi secara fair untuk masuk ke jurusan-jurusan favorit dengan skema beasiswa akademik. Satu paket dengan MoU tersebut juga menyangkut kelanjutan studi para guru berupa beasiswa program S2 di PTN-PTN tersebut .Siswa Boarding School wajib tinggal di asrama selama masa pendidikan. Bukan semata-semata untuk pembentukan perilaku (shapping behavior), melainkan untuk terciptanya budaya akademik everytime knowledge pada peserta didik yang selalu tergerak melakukan penjelajahan intelektual (intelectual journey) baik di sekolah maupun di asrama. Desain kegiatan disusun sedemikian rupa untuk maksud tersebut, termasuk fasilitas laboratorium mini dan ketersediaan internet di asrama. Selain kegiatan dalam lingkungan sekolah dan asrama, boarding school juga mengadakan kegiatan pembelajaran di luar kelas (outdoor class activity), sebagai upaya untuk menambah wawasan keilmuan siswa. Sasarannya agar siswa memiliki wawasan kelimuan yang lebih luas sebagai bekal untuk menghadapi persaingan di dunia yang semakin ketat. Kegiatan pembelajaran di luar kelas yang pernah diadakan adalah kunjungan ke Harian Solo Pos sebagai salah satu koran terkemuka di kota Solo. Siswa melalui kegiatan ini diharapkan memiliki wawasan tentang dunia jurnalistik. Kegiatan pembelajaran di luar kelas yang lain adalah kunjungan sejarah ke obyek-obyek wisata sejarah, yaitu kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran, dengan tujuan agar siswa Boarding School tidak melupakan sejarah bangsanya dan meninggalkan budaya bangsanya sendiri.



Sedangkan sebagai wahana pembentukan sikap dan karakter siswa, diadakan kegiatan kajian, diskusi tentang berbagai masalah yang aktual di masyarakat, melalui kegiatan Bahtsul Masail, dimana siswa mengorganize sendiri kegiatan dari pembicara, moderator dan peserta. Tema kajian selalu berganti sesuai dengan perkembangan apa yang sedang terjadi di masyarakat. Dalam kegiatan ini, siswa Boarding melatih diri untuk bisa memberikan kontribusi berupa pemikiran, gagasan mengenai permasalahan yang sedang aktual di masyarakat sehingga diharapkan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kritis dengan kondisi yang ada di sekitarnya yang pada akhirnya mampu membentuk karakter dan sikap siswa Boarding School.

Sejak pendiriannya tahun 2005, Boarding School MAN 1 Surakarta telah menghasilkan alumni yang banyak diterima di PTN antara laisimulasi spmbnUNNES, UIN Yogyakarta, UIN Malang, UNS, dll. Hal ini membuktikan Boarding School MAN 1 Surakarta mampu berbicara dalam persaingan memperebutkan kursi di PTN. Untuk siswa angkatan 2008/2009 ada beberapa siswa yang telah diterima di Perguruan Tinggi, baik melalui jalur PMDK maupun Ujian Masuk (UM).

Info Technology-Science

Rabu, 03 Februari 2010

India Akan Tenggelam Dalam Lipatan Bumi?

WASHINGTON - Sebuah studi berbasis simulasi komputer memperkirakan India akan tenggelam ke dalam lipatan Bumi.

Para ilmuwan takjub mengetahui bahwa gunung Himalaya masih terus tumbuh, meskipun faktanya lempeng tektonik India telah terhempas ke lempeng Eurasia dari 50 juta tahun lalu.

Dilansir, Big News Networks, Senin (1/2/2010), Fabio Capitanio dari Monash University di Australia, berdasarkan model simulasi komputer, memperlihatkan dua lempengan masih bisa melakukan pembentukan dan masih akan terus tumbuh menjadi gunung tertinggi di dunia.

Perkiraan tersebut kemudian berkembang dengan anggapan bahwa wilayah India akan menurun dan perlahan tenggelam dalam lipatan Bumi, maka secara otomatis akan menarik keseluruhan benua untuk ikut tenggelam bersamanya.

Teori tersebut tidaklah terdengar aneh, karena semua teori mengenai proses geologis menyebutkan letusan gunung berapi akan memadati lautan. Saking padatnya, bagian yang terhimpit akan terlipat ke dalam dan menenggelamkan benua.

Namun situasi Himalaya sangatlah berbeda. Berdasarkan gambaran pada simulasi komputer, peristiwa ini diibaratkan seperti dua mobil yang bertabrakan dan salah satunya perlahan akan menghilang tenggelam ke dalam aspal.

Info Technology-Science

Ilmuwan Ciptakan Mesin Fotokopi Sel



LONDON - Dengan mencontoh mesin fotokopi di perkantoran, para ilmuwan kemudian menciptakan printer atau mesin cetak yang bisa menghasilkan kopi gambar sel biologis berukuran nanoscale atau sangat kecil.

Ilmuwan dari Illinois University yang mengembangkan mesin fotokopi sel ini menyebutkan, hasil cetak sel biologis bisa sangat membantu dalam membuat jaringan tubuh buatan.

"Dengan memodifikasi teknik, akan sangat mungkin memanipulasi sel biologis atau sel biomolekul seperti DNA," kata ketua tim studi John Rogers seperti dikutip dari New Scientist, Selasa (2/2/2010).

Printer jet electrohydrodynamic buatan mereka bekerja dengan menghasilkan tegangan listrik berbeda diantara mulut pipa metalik dan subtrat di bawahnya. Hasil dari tegangan elektrik menyebabkan muatan ion dalam tinta berkumpul dalam mulut pipa dan permukaannya terbentuk seperti bulan sabit.

Karena muatan ion saling menolak, permukaan bulan sabit kemudian akan berubah bentuk menjadi bentuk kerucut, menghasilkan ujung super tipis dimana tetesan kecil tinta paling kecil dikeluarkan.

Proses ini menghasilkan ketidakseimbangan dalam kuantitas ion negatif dan positif dalam tinta cetak. Namun anggota tim menyadari bahwa dengan mengganti muatan kutub tegangan, mereka bisa menyelesaikan masalah tersebut serta bisa juga mencetak berbagai pola rumit muatan negatif atau positif ke dalam substrat. Pada intinya, kemampuan ini sangat dibutuhkan untuk membuat kopi sel biologis yang rumit dan sangat kecil.